This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Showing posts with label ECONOMY. Show all posts
Showing posts with label ECONOMY. Show all posts

EKONOMI PIALA DUNIA

Turnamen olahraga tingkat dunia, seperti piala dunia sepak bola dan olimpiade, dalam beberapa dasawarsa terakhir tidak lagi sekadar peristiwa akbar olahraga, tetapi juga telah menjadi ajang bisnis multimiliar dollar bagi tuan rumah. Bukan hanya terkait dengan pembangunan dan pengembangan infrastruktur, tetapi juga ”boom” ekonomi yang dihasilkannya, baik dari turisme maupun penjualan berbagai macam cendera mata yang tidak selalu terkait dengan pesta olahraga tersebut. Karena itu, penyelenggaraan pesta olahraga akbar semacam piala dunia dalam perspektif negara penyelenggara hampir tidak lagi murni terkait dengan olahraga itu sendiri. Sebaliknya, justru lebih didasarkan pertimbangan ekonomi dan politik.

Maka pertanyaannya: Apa makna ekonomi politik Piala Dunia 2010 bagi tuan rumah Afrika Selatan? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab; karena untuk melihat dampak pastinya, orang mesti menunggu beberapa tahun setelah selesainya turnamen sepak bola terbesar di jagat raya ini. Meski demikian, orang bisa mulai menghitung-hitung manfaat (atau sebaliknya mudarat) ekonomi dan politik Piala Dunia 2010 bagi Afrika Selatan.

Tidak ragu lagi, Afrika Selatan merupakan negara emerging economy terkemuka di Benua Afrika Hitam. Dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar 495,1 miliar dollar AS dan PDB per kapita 10.100 dollar AS, Afrika Selatan termasuk salah satu negara G-20. Dalam beberapa kali kunjungan ke Afrika Selatan sepanjang dasawarsa 2000-an, saya menyaksikan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat negara ini.


Tetapi terkait dengan krisis ekonomi global, sejak akhir 2008 ekonomi Afrika Selatan menciut sebesar 1,8 persen, dan 6,4 persen pada kuartal pertama 2009; dan pertumbuhan PDB negatif 0,3 persen. Tak heran kalau Presiden Jacob Zuma menyatakan, ”Kami telah memasuki masa resesi.” Terlepas dari penciutan ekonomi itu, Afrika Selatan dengan sumber daya alam melimpah, sistem keuangan yang mapan, infrastruktur modern, transportasi dan telekomunikasi yang maju dapat membuat orang secara instan bergumam; berada di Afrika Selatan seolah tengah di Eropa Barat saja.

Namun, ini juga tidak menutup kenyataan banyaknya wilayah kumuh yang dikenal sebagai ”township”, di mana penduduk miskin kota yang umumnya kulit hitam hidup berjejal-jejal. Ketika menyaksikan township di pinggiran jalan Bandara Cape Town, misalnya, saya melihat sisi lain kehidupan ekonomi dan sosial Afrika Selatan yang tidak menggembirakan. Dari sudut ini, sisi lain Afrika Selatan di tengah pesta akbar Piala Dunia terlihat menyedihkan. Afrika Selatan memiliki tingkat pengangguran 25,1 persen (kuartal pertama 2010) dan sekitar seperempat bagian dari total penduduk 49,32 juta hidup dari santunan sosial negara. Dan sekitar 50 persen penduduk hidup masih di bawah garis kemiskinan, sementara bagian masyarakat terkaya berhasil meningkatkan pendapatan tahunan mereka lebih dari 50 persen.

Apakah ada janji dan manfaat Piala Dunia 2010 bagi penduduk township yang miskin dan menganggur di sejumlah kota di Afrika Selatan? Yang jelas, banyak di antara mereka tergusur dari permukiman liar (township); mereka yang berdagang asongan di jalanan Cape Town dan Johannesburg, misalnya, digusur aparat keamanan. Soal penggusuran demi pesta akbar olahraga bukanlah berita baru. Olimpiade Beijing 2008, misalnya, menggusur tak kurang dari 1,5 juta penduduk dan Olimpiade Seoul 1988 juga menyingkirkan sekitar 700.000 orang dari permukiman mereka—semuanya untuk penyiapan infrastruktur pesta olahraga dunia.

Mereka juga bisa dipastikan tidak mampu menikmati pertandingan di stadion karena harga tiket yang jauh dari jangkauan; harga tiket paling murah untuk pertandingan penyisihan 55 euro; paling murah untuk pertarungan final 275 euro. Sebab itu, tidak heran jika dari sebanyak 3 juta tiket yang tersedia, kurang dari 100.000 saja yang dibeli orang-orang Afrika Selatan sendiri.

Dengan begitu, mayoritas terbesar penikmat Piala Dunia di Afrika Selatan adalah orang- orang luar. Mereka ini diharapkan tidak hanya membelanjakan uang untuk tiket, tetapi tentu saja untuk hotel dan biaya hidup lainnya, cendera mata Piala Dunia, dan suvenir lainnya. Menurut perhitungan sementara, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan stadion-stadion saja mencapai 3,7 miliar dollar AS, yang dipikul terutama oleh pemerintah pusat dan daerah. Ini belum termasuk biaya-biaya lain, seperti penyiapan infrastruktur pendukung dan pengamanan.

Dan kelihatannya, Pemerintah Afrika Selatan sudah mulai ”kedodoran” dalam pembiayaan sehingga sebulan sebelum penyelenggaraan Piala Dunia, FIFA turun tangan membantu dana 100 juta dollar AS untuk memperbaiki fasilitas-fasilitas latihan bagi tim-tim. Dengan tambahan dana ini, FIFA telah membantu pendanaan Piala Dunia 2010 total 523 juta dollar AS. Jika Piala Dunia 2010 sukses—dengan beban ekonomi yang tersisa nanti—jelas dapat memberikan gengsi politik bagi Afrika Selatan dan lebih khusus lagi bagi ANC (African National Congress), partai berkuasa yang menghadapi banyak masalah internal belakangan ini.

Dengan begitu, dalam pandangan banyak pemimpin ANC, Piala Dunia 2010 tidak hanya membuka peluang ekonomi lebih besar bagi negara ini, tetapi sekaligus lagi memantapkan posisi Afrika Selatan sebagai telah bebas dari bayang-bayang apartheidisme dan kini sepenuhnya menjadi emerging country yang mapan di tingkat internasional.

Agus Suhery Sinaga
(Mahasiswa S1 IESP FE UNPAD)
Kandank Ilmu Team

MENGAPA BANK CENTURY DISELAMATKAN

Kasus Bank Century seakan bergulir bagai bola api yang panas. Langkah upaya penyelamatan yang dianggap jalan keluar dari masalah oleh oleh LPS atas rekomendasi BI (Boediono) dan disetujui Menkeu RI (Sri Mulyani) seakan menjadi perdebatan tanpa akhir. Pada dasarnya hanya ada 2 pilihan saat itu salamatkan atau tutup.


Keputusan untuk melakukan bail out terhadap Bank Century sebagai langkah penyelamatan bukan tanpa dasar atau alasan yang jelas. Bank Indonesia merekomendasikan bahwa Bank Century harus diselamatkan , karena jika ditutup akan berdampak sistematik, hal itu menurut Budiono yang saat itu menjabat sebagai Gubernur BI. Berdampak sistematik dalam kasus ini, yang mana dalam pengertian Undang Undang (BI dan LPS), yakni kegagalan suatu bank yang akan berpengaruh secara berantai terhadap perbankan nasional secara khusus dan sistem keuangan bangsa secara umum, yang pada gilirannya berpotensi memicu krisis ekonomi.

Tetapi mengapa ‘kucuran dana’ ini kemudian santer diperdebatkan. Pertama, permasalahan tentang mengapa Bank Century pantas diselamatkan ketimbang Bank Indover, sebuah bank pada Indover mencapai Rp 461 miliar, lalu Bank Mandiri US 31 juta (Rp 341 miliar), BNI sebesar Rp 156 miliar, Bank Bukopin sebesar US$ 15 juta (Rp 165 miliar), Bank CIMB Niaga sejumlah US$ 5 juta (Rp 55 miliar). Atau total dana perbankan nasional di Indover mencapai lebih Rp1 triliun. Sudah dipastikan dana tersebut sangat menyangkut hajat hidup orang banyak. Berbeda dengan Bank Century, yang kebanyakan nasabahnya berasal dari kalangan konglomerat, yakni diantaranya dimana sebuah bank Negara dibawah Bank Indonesia yang beroperasi di Belanda. Bank Indover juga memilki kasus atau kesulitan yang hampir sama dengan Bank Century. Aset yang dimiliki keduanya hampir sama pula. Tetapi DPR dan Menkeu Sri Mulyani enggan menyuntikkan dana, sehingga bank itu tertutup. Padahal bank tersebut merupakan bank Milik Negara yang berasal dari dana perbankan BUMN seperti BRI, Mandiri, BNI. Setidaknya dana BRI Budi Sampoerna dan Murdaya Poo, dan dikabarkan juga terdapat dana pensiunan tentara Amerika. Sehingga penyelamatan Bank Century terkesan tidak adil bila dibanding Bank Indover yang notabene milik negara, padahal angka bantuan likuiditas pada akhirnya sama yakni Rp 6.7 triliun untuk Century milik si Robert Tantular dan Rp 7 triliun untuk Indover milik negara Indonesia. Ternyata dalam hal ini, LPS, Menkeu Sri Mulyani, dan Boediono lebih memilih menyelamatkan Bank Century dibanding “negara Indonesia”. Dari sini bisa kita lihat, terlihat perbedaan keputusan, bias jadi karena ‘jaringan’ kasusnya berbeda atau adanya ‘kepentingan’.

Lalu mengapa DPR menyetujui atas usulan ‘penyelamatan’ Bank Century dibanding Bank Indover? Karena DPR beranggapan membutuhkan dana yang cukup besar untuk menyelamatkan Bank Indover, yakni sebesar Rp. 7 triliun, yang mana sangat menyedot dana APBN. Apabila dana yang dibutuhkan hanya 1-2 miliar tidak menutup kemungkinana diselamatkan. DPR juga percaya bahwa penutupan Bank Indover tidak akan berdampak secara sistemik seperti yang sempat Budiono khawatirkan. Karena dana di Indover hanya sekitar Rp 10-an triliun, sangat kecil dibanding dana perbankan nasional yang mencapai lebih dari Rp 1500 triliun. Dan mengapa DPR pada awalnya setuju agar BI bersama LPS mengambil alih Bank Century dikarenakan bahwa pada awalnya BI memberi laporan bahwa untuk menyelamatkan Century, ‘hanya’ diperlukan dana Rp 632 miliar.Yang kemudian DPR hanya diberitahu bahwa dana bailout yang keluar cuma Rp 1.3 triliun. Karena besaran serta aset Bank Century yang hampir sama dengan Bank Indover , maka langkah penyelamatan Bank Century dengan dana sekitar Rp 1 triliun masih dianggap wajar oleh DPR.
Namun terjadi reaksi berantai pengucuran dana yang lebih besar. Bank Indonesia telah memberikan analisis yang keliru. Seharusnya BI menyebutkan angka Rp 632 miliar hanayalah dana awal, yang kemudian hari berpotensi membengkak jika terjadi rush money yang besar. Dan terbukti, terjadi aliran dana yang besar pada November – Desember 2008, sehingga pada akhirnya angka penyelamatan membengkak hingga lebih dari 1000% yakni Rp 6.7 triliun. Lalu muncul pertanyaan mengapa bank yang sudah dirampok pemiliknya sendiri disuntik dana besar-besaran, kemudian muncul fakta kemana ari dana sebesar itu karena msaih saja sampai saat ini nasabah kecil bank itu uterus saja berdemonstrasi menuntut kembali dana mereka.

Ardanty Sista
(Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran)
Kandank Ilmu Team

NOBEL AMARTYA SEN DAPAT MENJADI ALTERNATIF PENYELESAIAN MASALAH KRISIS YUNANI

Penyebab Krisis Yunani :
Krisis-fiskal di Yunani dipicu oleh adanya keengganan pasar untuk menyerap obligasi atau SUN-nya agar memenuhi kewajiban pembayaran utangnya sebesar 20 biliun euro yang akan jatuh waktu pada bulan April-Mei depan. Kemungkinan kegagalan pembayaran utang Yunani tersebut tidak saja akan berdampak pada negara itu saja, tapi juga pada negara-negara lain, baik anggota UE maupun bukan, serta mengurangi kepercayaan dunia pada keutuhan UE.

Pada saat ini, negara-negara lain anggota UE sedang mempertimbangkan bagaimana caranya mengatasi masalah tersebut, menjamin SUN Yunani agar laku dijual di pasar, langsung membelinya ataukah membiarkan negara itu ikut program IMF. Di pihak lain, UE tidak punya mekanisme untuk membantu negara yang mengalami kesulitan keuangan. Karena tidak lagi punya mata uang nasional. Yunani tidak lagi dapat melakukan devaluasi untuk menekan permintaan agregat di dalam negeri dan merangsang ekspor.

Penyebab krisis defisit anggaran negara di Yunani adalah lemahnya disiplin anggaran serta buruknya administrasi perpajakan negara itu. Kurangnya disiplin anggaran tecermin dari pemborosan, korupsi, maupun manipulasi pembukuan. Ketentuan LE yang memagu defisit anggaran negara maksimum sebesar 3 dari PDB dilanggarnya dengan memanipulasi pembukuan. Dalam sistem pembukuan dan anggaran berbasis kas, yang digunakan di Yunani, tidak dapat diantisipasi risiko fiskal karena anggaran tidak memuat informasi mengenai pengeluaran contingency

Dampak untuk Negara lain :

Jika tidak segera diatasi, krisis fiskal Yunani dapat menjalar ke negara-negara lainnya di Eropa, seperti Spanyol, Portugal, dan Irlandia yang sekarang ini juga menghadapi tekanan fiskal yang berat. Bahkan, krisis fiskal pun dapat mengancam Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Stok utang Jepang sudah mencapai 200% dari PDB-nya sedangkan Amerika Serikat setara dengan PDB-nya.

Sebagaimana diketahui, berbagai negara maju (termasuk Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris) telah mengeluarkan SUN dalam jumlah besar untuk menguatkan modal industri keuangannya yang dilanda krisis pada 2007-2008 serta membelanjai stimulus fiskal tahun 2008-2010. Selain melakukan ekspansi fiskal, negara-negara maju sekaligus melakukan ekspansi moneter dengan membanjiri likuiditas dalam perekonomiannya serta menurunkan tingkat suku bunga nominal hampir menjadi nol persen.

Tujuan utama dari kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif itu adalah untuk mengatasi kelangkaan likuiditas di pasar uang serta pasar devisa maupun untuk mengatasi resesi ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Seperti halnya dengan Pearl Harbour, di Hawaii, yang dianggap sebagai tempat aman sebelum dibom oleh tentara Jepang pada tahun 1941, tadinya, mata uang dolar dianggap merupakan mata uang yang aman.

Oleh karena itu, krisis keuangan di Amerika Serikat tahun 2007-2008 tidak mengurangi pemasukan modal asing ke negara itu untuk membeli obligasi pemerintahnya. Sekarang ini, keadaannya sudah mulai berubah. Kepercayaan pasar pada SUN Amerika Serikat sudah mulai goyah karena peningkatan utang pemerintah federalnya, diikuti dengan krisis fiskal di berbagai negara bagian.

Erosi kepercayaan ini, antara lain, tecermin dari penurunan pembelian SUN negara itu oleh China dan negara-negara anggota OPEC pada 2009. Jepang lebih beruntung karena pembeli terbesar dari SUN-nya adalah investor dalam negeri, termasuk Bank Tabungan Pos (BTP)-nya yang memobilisasi tabungan penabung kecil. Hanya pilihan bagi pemerintah untuk dapat melunasi kewajiban pembayaran utangnya, yakni meningkatkan penerimaan pajak dan mengurangi pengeluarannya. Kedua alternatif itu sulit dilakukan dalam keadaan ekonomi yang baru keluar dari resesi dewasa ini. Erosi kepercayaan terhadap SUN suatu negara menyebabkan investor hanya mau membelinya pada tingkat suku bunga yang Iebih tinggi.

Solusi :

Ada beberapa solusi cara yang dapat digunakan sebenarnya diantaranya :

  1. Mengurangi atau menekan pengeluaran pemerintah . sesuai dengan rumus : Y = C + I + G + Nx. Sehingga bila pengeluaran pemerintah jauh lebih kecil maka pendapatan yang diperoleh dapat dialihkan kesektor lain . Contoh nyatanya adalah pengurangan gaji pejabat.
  2. Adanya penerapan pajak progressive, (semakin tinggi penghasilan semakin tinggi jumlah kena pajaknya). Dengan menerapkan pajak progressive masalah pegawai yang protes gajinya terlalu besar terkena pajak akan terselesaikan.
  3. Selain itu cara untuk membayar utang negara Yunani mungkin dapat sebagian kecil memimjam dari IMF dan sisanya dapat menggunakan cara negara India untuk memperoleh modal usaha , yaitu dengan cara meminta tolong pada institusi ekonomi seperti perguruan tinggi untuk membuat suatu kelompok besar untuk menggalang dana dengan door-to-door ke rumah – rumah penduduk yang berada pada tingkat ekonomi atas untuk membeli SUN ataupun meminjam tanpa bunga . sehingga dengan begitu utang dapat terbayar dengan bunga yang rendah dan tidak menjadi sebuah beban yang besar untuk negara Yunani untuk kedepannya

Surya Dinata
(Mahasiswa S1 IESP FE UNPAD)
Kandank Ilmu Team

PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

Pembangunan ekonomi suatu negara ditentukan oleh banyak faktor, seperti kondisi fisik alamnya, lokasi geografis, kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan sumber daya manusia, kondisi awal ekonomi, sosial budaya, peran pemerintah, perkembangan teknologi, kondisi ekonomi politik dunia dan keamanan global. Negara–negara dengan perekonomian yang maju tahu bagaimana memaksimalkan hal-hal tersebut agar perekonomian mereka tetap bertumbuh.

Sekarang bagaimana dengan Indonesia? Negara yang penuh ironi, Negara yang punya segalanya tapi kekurangan banyak hal. Sekarang kita lihat kondisi fisik alam Indonesia tidak perlu dipertanyakan lagi kekayaannya. Laut luas dan melimpah tapi tidak membuat nelayan kaya, gas yang melimpah tapi kesulitan gas. Komoditas pertanian dan perkebunan Indonesia menempati peringkat 1-6 penghasil terbanyak di dunia seperti beras, lada, kopi, cokelat, kelapa sawit, karet, dan biji-bijian. Apakah masyarakat Indonesia makmur dengan kondisi seperti itu? Tidak. Yang terjadi justru sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia kekurangan bahan makanan yang justru Indonesia menghasilkan sangat banyak bahan-bahan makanan tersebut. Jika dilihat dari lokasi geografis sudah tidak diragukan lagi ,Indonesia memilki letak yang sangat strategis. Banyak masalah dalam kualitas sumber daya manusia di Indonesia, banyak yang tidak terdidik dan tidak terlatih, akibatnya banyak angkatan kerja yang tidak siap memasuki dunia kerja.

Kondisi awal ekonomi kita yang tidak terlalu baik karena jika diukur dengan ukuran apapun pemulihan ekonomi Indonesia jauh ketinggalan dari negara-negara yang juga terkena krisis seperti Thailand hal ini terjadi karena krisis yang kita hadapi jauh lebih berat dan lebih kompleks sehingga menimbulkan kerusakan sistemik di bidang-bidang lainnya seperti sosial budaya, politik hukum dan keamanan dan peran pemerintah juga sangat minim dalam hal ini, sedangkan perkembangan teknologi adalah hal yang sangat penting dan Indonesia sudah jauh tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara sekalipun. Faktor-faktor itulah yang membuat perekonomian Indonesia sulit untuk maju. Sebuah pertanyaan sederhana apakah kondisi seperti ini akan berubah? Mungkinkah masyarakat Indonesia makmur? Pertanyaan tersebut mungkin dapat terjawab saat kampanye Pilpres 2009 lalu. Janji-janji ekonomi SBY-BOEDIONO mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut karena pasangan inilah yang menentukan nasib pembangunan ekonomi Indonesia 5 tahun ke depan. Apa saja janji-janji ekonomi SBY-BOEDIONO

Inilah janji-janji ekonomi pasangan tersebut:


  1. Pertumbuhan ekonomi 7% diakhir pemerintahan
  2. Inflasi rendah (sekitar 4%)
  3. Suku bunga/ BI rate sekitar 6% (terendah sepanjang sejarah)
  4. Infarstruktur dipercepat (tol trans Jawa, trans Kalimantan, bandara , pelabuhan , dll)
  5. Reformasi birokrasi (pemerintahan bersih dengan memperhatikan kesejahteraan PNS, TNI, Polri)
  6. Hutang luar negeri dipangkas (mengurangi ketergantungan pada kreditur luar negeri, saat ini rasio hutang terhadap PDB terus turun sekitar 32%)
  7. Privatisasi BUMN tidak berlebihan (lebih professional dan transparan terutama melalui bursa saham)
  8. Pengentasan kemiskinan dan pengangguran (kemiskinan harus turun 8-10%, pengangguran 5-6%)
  9. Swasembada pangan seperti beras, jagung, kedelai, gula, daging.

Untuk dapat merealisasikan semua janji-janji tersebut pemerintahan SBY-BOEDIONO membutuhkan strategi khusus karena semua pihak pasti tahu janji-janji tersebut termasuk hal yang sulit direalisasikan.
Sekarang coba kita bahas semua janji-janji ekonomi SBY-BOEDIONO tersebut. Bicara mengenai pertumbuhan ekonomi maka kita bicara mengenai masalah yang sangat kompleks dan memilki banyak sudut pandang. Tujuan akhir kebijakan ekonomi adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat. Masyarakat awam tidak memperdulikan pertumbuhan ekonomi walaupun telah mencapai berapa ratus persen, bagi mereka kesejahteraan adalah kondisi nyata yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat hanya menuntut 2 hal dasar yaitu pertama mereka menginginkan agar biaya kebutuhan hidup tetap stabil, khususnya kebutuhan pokok dan kedua mereka menginginkan penghasilan yang layak dan meningkat. Pertumbuhan 7% yang ditargetkan pemerintah tidaklah salah, akan tetapi harus dilihat dari sudut pandang yang benar-benar berpihak pada masyarakat. Pertumbuhan ekonomi secara agregat makro dapat terjadi walaupun masyarakat banyak yang hidup dalam kemiskinan. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi harus lah merata. Pemerintah juga menginginkan inflasi yang rendah sekitar 4%, hal ini mengindikasikan bahwa kebijakan pemerintah kedepannya adalah menekan inflasi. BI rate yang ditargetkan pemerintah juga yang terendah sepanjang sejarah yaitu 6%, pemerintah dalam hal ini sangat ingin meningkatkan iklim investasi sehingga pemerintah juga menargetkan pembangunan infrastruktur yang besar-besaran seperti jalan, bandara dan pelabuhan. Bagaimana hal-hal tersebut dapat diwujudkan? Ilmu ekonomi dapat membantu kita merumuskan langkah-langkah apa yang diperlukan. Namun untuk mewujudkannya perlu suatu kombinasi penerapan ilmu ekonomi, administrasi manajemen yang baik, kebijakan politik dan diplomasi. Apa langkah-langkah yang perlu dilakukan? Pertama untuk memelihara stabilitas ekonomi ada 2 hal yang perlu dilakukan yaitu kebijakan fiskal dan moneter yang harus sangat berhati-hati dan penyehatan sektor keuangan secara antisipatif. Kedua yang sangat vital adalah untuk memenuhi sasaran pertumbuhan ekonomi ada 2 hal yang dapat dilakukan yang jika dilakukan dengan benar maka akan segera meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu pembangunan infrastruktur dan perbaikan iklim investasi. Agar hal tersebut maksimum maka pertumbuhan ekonomi harus memilki corak dan arah yang jelas dan disinilah peran kebijakan perdagangan dan industri. Apakah industri yang tumbuh adalah industri yang efisien dan berdaya saing? Apakah dapat menyerap banyak tenaga kerja? Jika jawabannya ya maka pertumbuhan ekonomi dapat terealisasi dengan baik karena memiliki arah yang jelas. Setelah kita melihat faktor-faktor untuk memenuhi pertumbuhan ekonomi seperti infrastruktur dan investasi maka kita dapat simpulkan bahwa strategi ekonomi SBY-BOEDIONO untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sudah tepat, hanya harus juga disertai dengan pemerataan di berbagai daerah dan di berbagai bidang. Sekarang setelah ekonomi bertumbuh maka akan dipikirkan apakah pertumbuhan itu akan berlanjut? Dalam ilmu ekonomi dikenal konsep growth potential yaitu suatu batas pertumbuhan ekonomi suatu negara dalam jangka panjang. Faktor-faktor yang menentukan potensi pertumbuhan ini adalah kualitas institusi-institusinya, kualitas sumberdaya manusia, sumber daya alam dan teknologi. Jika kita lihat dari institusi-institusi yang paling menghambat adalah lemahnya kinerja birokrasi. Sehingga dalam janji ekonomi SBY-BOEDIONO terdapat janji reformasi birokrasi yaitu pemerintahan yang bersih dan kesejahteraan bagi PNS, TNI, Polri. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia menyangkut 2 hal yaitu pendidikan dan kesehatan sehingga dalam janji ekonomi diperlukan pengentasan kemiskinan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat Indonesia yang dalam hal pendidikan dan kesehatan sangat memprihatinkan. Sumberdaya alam juga perlu strategi yang jelas dalam pengelolaannya sehingga memberikan efek yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam hal ini BUMN yang mengelola sumber daya alam perlu meningkatkan kinerja dan janji ekonomi mengatakan bahwa privatisasi BUMN akan lebih professional dan transparan. Karena selama ini privatisasi BUMN tidak jelas dan kinerja pengelolaan sumberdaya alam sangat kacau. Suatu strategi teknologi perlu juga disusun karena kemajuan teknologi adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan saat ini adalah pertumbuhan ekonomi yang urgensi, oleh karena itu dibutuhkan langkah-langkah dan kebijakan yang ekstra keras untuk memenuhi hal yang sangat urgensi misalnya membuka lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.

Hal yang dapat dilakukan adalah :

a. Kebijakan pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) yang komprehensif dan realistis sehingga tidak ada lagi masalah kekurangan dana seperti yang sering terjadi.
b. Pelatihan yang benar-benar meningkatkan kualitas tenaga kerja sehingga dapat mengisi lowongan kerja yang ada.
c. Pembenahan mendasar terhadap pengelolaan tenaga kerja Indonesia yang dikirim ke luar negeri.
d. Gerakan pengentasan kemiskinan dengan strategi yang jelas dan penyusunan serta pelaksanaannya melibatkan semua stakeholder penting termasuk departemen, pemerintah daerah, dunia usaha, kelompok masyarakat, dan masyarakat miskin itu sendiri.

Pertumbuhan ekonomi juga tidak dapat dijadikan suatu patokan keamanan ekonomi dari krisis. Jika kita melihat secar historis sebelum krisis 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak 1980 tumbuh rata-rata 8% per tahun dan pada 1997 tumbuh 7,4%. Inflasi juga cenderung turun sejak 1980 yaitu sekitar 9% menjadi 5,1% pada juni 1997. Selam 1990an nilai ekspor juga tumbuh 14%. IHSG juga menunjukan bahwa pasar modal bergairah pada akhir 1997. Tidak ada tanda-tanda krisis moneter yang hebat sebelum terjadinya kenaikan harga-harga barang yang dipicu merosotnya nilai rupiah. Hal ini yang menyebabkan terjadinya kepanikan di berbagai sektor sehingga perbankan pun mengalami guncangan hebat dan banyak bank yang dilikuidasi. Itulah sekilas tentang krisis 1998 yang pernah dialami Indonesia pada masa orde baru. Kita pasti tidak mau hal tersebut terjadi lagi walaupun kita tidak dapat menangkal faktor-faktor global yang mungkin terjadi.

Sekali lagi hal tersebut diatas membutuhkan koordinasi yang baik dari setiap birokrasi dan pihak yang terlibat sehingga diharapkan jika semua hal diatas koordinasi sudah berjalan dengan baik maka pertumbuhan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat kecil dapat terwujud.

Kebijakan-kebijakan ekonomi secara teori (penelitian, pembuat analisis kebijakan, membuat model ekonometri) sangat berbeda dengan kenyataannya. Pertama perumus kebijakan ekonomi akan menghadapi situasi yang dinamis, kemudian ia akan menghadapi respons kebijkan karena respon tersebut juga bisa berasal dari luar lembaga terkait. Oleh karena itu kebijakan tidak dapat langsung diaplikasikan seperti yang dirumuskan dalam berbagai teori tapi melewati suatu proses dinamis yang akan berhubungan dengan berbagai kepentingan politik.

Hilton Simamora
(Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran)
Kandank Ilmu Team

PENILAIAN REKSADANA SEBAGAI PRODUK INVESTASI YANG TEPAT BAGI MAHASISWA

Jika mahasiswa memilki kelebihan uang maka yang dipikirkan adalah saving dalam bentuk tabungan. Tapi apakah itu merupakan cara yang paling tepat untuk mengalokasiakan kelebihan uang kita? Untuk itulah tulisan ini dibuat untuk menyadarkan mahasiswa bahwa reksdana merupakan produk investasi yang paling tepat. Reksadana adalah wadah dan pola pengelolaan dana/modal bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen investasi yang tersedia di Pasar dengan cara membeli unit penyertaan reksadana. Dana ini kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke dalam portofolio investasi, baik berupa saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya.
Dari kedua definisi di atas, terdapat tiga unsur penting dalam pengertian Reksadana yaitu:

  1. Adanya kumpulan dana masyarakat, baik individu maupun institusi
  2. Investasi bersama dalam bentuk suatu portofolio efek yang telah terdiversifikasi; dan
  3. Manajer Investasi dipercaya sebagai pengelola dana milik masyarakat investor.

Pada reksadana, manajemen investasi mengelola dana-dana yang ditempatkannya pada surat berharga dan merealisasikan keuntungan ataupun kerugian dan menerima dividen atau bunga yang dibukukannya ke dalam "Nilai Aktiva Bersih" (NAB) reksadana tersebut. Kekayaan reksadana yang dikelola oleh manajer investasi tersebut wajib untuk disimpan pada bank kustodian yang tidak terafiliasi dengan manajer investasi, dimana bank kustodian inilah yang akan bertindak sebagai tempat penitipan kolektif dan administratur. Dari penjelasan apa itu reksadana, maka kita juga harus mengetahui karateristik dan jenis dari reksadana tersebut, demikian pemaparan tentang karakteristik dan jenis dari reksadana.

Karakteristik Reksadana. Berdasarkan karakteristiknya maka reksadana dapat digolongkan sebagai berikut:

  • Reksadana Terbuka

adalah reksadana yang dapat dijual kembali kepada Perusahaan Manajemen Investasi yang menerbitkannya tanpa melalui mekanisme perdagangan di Bursa efek. Harga jualnya biasanya sama dengan Nilai Aktiva Bersihnya. Sebagian besar reksadana yang ada saat ini adalah merupakan reksadana terbuka.

  • Reksadana Tertutup

adalah reksadana yang tidak dapat dijual kembali kepada perusahaan manajemen investasi yang menerbitkannya. Unit penyertaan reksadana tertutup hanya dapat dijual kembali kepada investor lain melalui mekanisme perdagangan di Bursa Efek. Harga jualnya bisa diatas atau dibawah Nilai Aktiva Bersihnya.
Jenis-jenis Reksadana

  1. Reksadana Pendapatan Tetap. Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola (aktivanya) dalam bentuk efek bersifat utang.
  2. Reksadana Saham. Reksadana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelolanya dalam efek bersifat ekuitas.
  3. Reksadana Campuran. Reksadana yang mempunyai perbandingan target aset alokasi pada efek saham dan pendapatan tetap yang tidak dapat dikategorikan ke dalam ketiga reksadana lainnya.
  4. Reksadana Pasar Uang. Reksadana yang investasinya ditanam pada efek bersifat hutang dengan jatuh tempo yang kurang dari satu tahun.

Dikatakan pada judul reksadana merupakan produk investasi paling tepat, maka dari itu kita juga harus mengetahui manfaat-manfaat dari reksadana atau kelebihannya dari lembga keuangan lainnya. Inilah pemaparan dari manfaat reksadana.

Manfaat Reksadana

Reksa Dana memiliki beberapa manfaat yang menjadikannya sebagai salah satu alternatif investasi yang menarik antara lain:

  • Dikelola oleh manajemen profesional

Pengelolaan portofolio suatu Reksa Dana dilaksanakan oleh Manajer Investasi yang memang mengkhususkan keahliannya dalam hal pengelolaan dana. Peran Manajer Investasi sangat penting mengingat Pemodal individu pada umumnya mempunyai keterbatasan waktu, sehingga tidak dapat melakukan riset secara langsung dalam menganalisa harga efek serta mengakses informasi ke pasar modal.

  • Diversifikasi investasi

Diversifikasi atau penyebaran investasi yang terwujud dalam portofolio akan mengurangi risiko (tetapi tidak dapat menghilangkan), karena dana atau kekayaan Reksa Dana diinvestasikan pada berbagai jenis efek sehingga risikonya pun juga tersebar. Dengan kata lain, risikonya tidak sebesar risiko bila seorang membeli satu atau dua jenis saham atau efek secara individu.

  • Transparansi informasi

Reksa Dana wajib memberikan informasi atas perkembangan portofolionya dan biayanya secara kontinyu sehingga pemegang Unit Penyertaan dapat memantau keuntungannya, biaya, dan risiko setiap saat.Pengelola Reksa Dana wajib mengumumkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) nya setiap hari di surat kabar serta menerbitkan laporan keuangan tengah tahunan dan tahunan serta prospektus secara teratur sehingga Investor dapat memonitor perkembangan investasinya secara rutin.

  • Likuiditas yang tinggi

Agar investasi yang dilakukan berhasil, setiap instrumen investasi harus mempunyai tingkat likuiditas yang cukup tinggi. Dengan demikian, Pemodal dapat mencairkan kembali Unit Penyertaannya setiap saat sesuai ketetapan yang dibuat masing-masing Reksadana sehingga memudahkan investor mengelola kasnya. Reksadana terbuka wajib membeli kembali Unit Penyertaannya sehingga sifatnya sangat likuid.

  • Biaya Rendah

Karena reksadana merupakan kumpulan dana dari banyak pemodal dan kemudian dikelola secara profesional, maka sejalan dengan besarnya kemampuan untuk melakukan investasi tersebut akan menghasilkan pula efisiensi biaya transaksi. Biaya transaksi akan menjadi lebih rendah dibandingkan apabila Investor individu melakukan transaksi sendiri di bursa. Inilah contoh kelebihan reksadana daripada lembaga keuangan lainnya: Dari manfaat di atas dapat dicontohkan misalnya seorang mahasiswa menginvestasikan Rp 500.000,00 dalam setahun. Jika ditabung di bank nilai itu akan berkurang bisa menjadi Rp 490.000,00. Akan tetapi jika di reksadana investasi tersebut bisa menjadi Rp 550.000,00 atau bahkan lebih. Ini dengan menggunakan jenis reksadana pendapatan tetap. Memang reksadana paling tepat tapi tidak sempurna juga masih ada resiko yang terjadi pada reksadana, inilah resiko investasi reksadana.

Risiko Investasi Reksadana

Untuk melakukan investasi Reksa Dana, Investor harus mengenal jenis risiko yang berpotensi timbul apabila membeli Reksadana.

  • Risiko menurunnya NAB (Nilai Aktiva Bersih) Unit Penyertaan

Penurunan ini disebabkan oleh harga pasar dari instrumen investasi yang dimasukkan dalam portofolio Reksadana tersebut mengalami penurunan dibandingkan dari harga pembelian awal. Penyebab penurunan harga pasar portofolio investasi Reksadana bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya akibat kinerja bursa saham yang memburuk, terjadinya kinerja emiten yang memburuk, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu.

  • Risiko Likuiditas

Potensi risiko likuiditas ini bisa saja terjadi apabila pemegang Unit Penyertaan reksadana pada salah satu Manajer Investasi tertentu ternyata melakukan penarikkan dana dalam jumlah yang besar pada hari dan waktu yang sama. Istilahnya, Manajer Investasi tersebut mengalami rush (penarikan dana secara besar-besaran) atas Unit Penyertaan reksadana. Hal ini dapat terjadi apabila ada faktor negatif yang luar biasa. Faktor luar biasa tersebut di antaranya berupa situasi politik dan ekonomi yang memburuk, terjadinya penutupan atau kebangkrutan beberapa emiten publik yang saham atau obligasinya menjadi portofolio Reksadana tersebu.

  • Risiko Pasar

Risiko Pasar adalah situasi ketika harga instrumen investasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh menurunnya kinerja pasar saham atau pasar obligasi secara drastis. Istilah lainnya adalah pasar sedang mengalami kondisi bearish, yaitu harga-harga saham atau instrumen investasi lainnya mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Risiko pasar yang terjadi secara tidak langsung akan mengakibatkan NAB (Nilai Aktiva Bersih) yang ada pada Unit Penyertaan Reksadana akan mengalami penurunan juga.

  • Risiko Default

Risiko Default terjadi jika pihak Manajer Investasi tersebut membeli obligasi milik emiten yang mengalami kesulitan keuangan padahal sebelumnya kinerja keuangan perusahaan tersebut masih baik-baik saja sehingga pihak emiten tersebut terpaksa tidak membayar kewajibannya.

Reksadana termasuk investasi yang terjangkau. Mahasiswa dapat menyisihkan uang sakunya 500 ribu untuk berinvestasi dalam reksadana. Daripada menabung di bank atau menyimpan uang di celengan yang justru semakin lama nilai uang semakin turun , mahasiswa dapat memilih produk investasi reksadana sebagai invesasi masa depannya. Setelah melihat pemaparan tentang reksadana maka dapat disimpulakan bahwa reksadana itulah produk investasi paling tepat bagi mahasiswa.

Cheidy Veronika
(Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran)
Kandank Ilmu Team

PENTINGNYA PERIKLANAN BAGI PEREKONOMIAN INDONESIA

Pendahuluan
Advertising (periklanan) adalah bentuk komunikasi yang digunakan untuk mempengaruhi individu untuk membeli produk atau layanan atau dukungan kandidat politik atau ide. Iklan tulis mulai dikenal sejak zaman Yunani kuno. Ketika itu, iklan berisi mengenai budak-budak yang melarikan diri dari tuannya atau mengenai penyelenggaraan pertandingan Gladiator, pada masa ini iklan hanyalah berupa surat edaran.

Beberapa waktu kemudian barulah muncul metode periklanan yang ditulis dengan tangan dan dengan kertas yang lebih besar di Inggris. Iklan pertama yang dicetak di Inggris ditemukan pada Imperial Intelligencer Maret 1648. Sampai tahun 1850-an, di Eropa iklan belum sepenuhnya dimuat di suratkabar. Kebanyakan masih berupa pamflet, leaflet, dan brosur. Iklan majalah pertama muncul dalam majalah Harper tahun 1864.
Ada beberapa teori mengenai perikalan. Menurut Nelson (1970,1974) “Advertising akan informatif bahkan ketika tidak menyebutkan harga atau fungsi ataupun keistimewaan yang lain”. Peran informatif ini akan berguna bagi masyarakat. Nelson membedakan 2 jenis produk. Yang pertama “search good” (baju dingin dan makanan) dimana masalah utamanya adalah dimana barang–barang yang tersedia dan apa yang mereka jual pada harga tertentu. Yang kedua “experience good” (computer dan alat elektronik) dimana masalah utamanya adalah kualitas yang baik dan dapat dinilai hanya setelah pembelian dan pengalaman.
Sementara menurut Becker dan Murphy (1993), iklan dilihat sebagai pelengkap untuk komsumsi sehingga iklan dapat meningkatkan nilai dari barang yang dikonsumsi hal ini dapat terjadi dengan dua cara :

  1. Advertising dapat bertindak seperti network external bagaimana untuk menciptakan crowd appeal (ketertarikan agar orang–orang berkumpul).
  2. Konsumen menyukai produkseperti halnya orang lain.

Gambaran Advertising Menurut Penulis

Menurut penulis, dimulai dari kebutuahan dari suatu media massa untuk mendapatkan pendapatan dan sebagai tambahan untuk menutupi biaya produksi yang cukup besar periklanan cukup berkembang di Indonesia. Setelah peranan advertising dinilai baik karena mempunyai jangkauan yang luas, banyak perusahaan menawarkan baik barang maupun jasa yang mereka produksi melalui advertising.

Disamping itu, Dengan munculnya advertising, konsumen dapat mengetahui informasi yang lengkap mengenai produk alternatif, style, kualitas, dan harga. Sehingga dapat disebutkan dengan munculnya advertising dapat mengakibatkan shopping experience dari konsumen berubah.

Dilihat dari sisi perusahaan dalam mendistribusikan/memasarkan produknya, saat advertising semakin canggih dapat merubah struktur pasar dan “the nature of firm”. Struktur pasar dapat berubah katrena adanya informasi yang semakin baik sehingga bisa saja dari bentuk pasar yang tadinya monopolistik menjadi pasar persaingan sempurna . Sementara “the nure of firm (perusahaan ada karena adanya laba positif)” dengan adanya kenaikan dari jumlah pembeli/segmentasi pasar sehingga pendapatan total naik.

Dampak Advertising

Dengan adanya Advertising, perbandingan dalam hal berbelanja (tawar-menawar anatara konsumen dan produsen) jauh berkurang karena konsumen juga meiliki informasi yang baik terhadap produk yang ditawarkan. Selain itu perusahaan memiliki insentif untuk memperluas jangkauan produk yang mereka tawarkan dan untuk beroperasi dalam skala yang lebih luas (peningkatan economic of scope).
Dengan tidak adanya Advertising akan terjadi kurangnya informasi mengenai suatu produk, belanja atau transaksi jual beli bersifat lokal (misalnya hanya terjadi di pasar saja) dan kesempatan untuk perusahaan melakukan ekspansi itu sangat kecil.

Pentingnya Advertising di Indonesia

Advertising mempunyai pengaruh ke beberapa sektor. menurut saya bagi perekonomian indonesia advertising juga mempunyai peran yang teramat penting karena dapat meningkatkan penjualan produk dan jasa yang dihasilkan oleh produsen-produsen indonesia (beras, tekstil, dll), menciptakan lapangan kerja dan membantu meningkatkan ekspor.

Dengan adanya advertising, masyarakat dapat mengenal produk – produk buatan dalam negeri jauh lebih baik sehingga “willingness to pay” dari masyarakat indonesia sendiri terhap barang produsi dalam negeri tersebut naik. Sehingga pendapatan negara menjadi naik.

Oleh karena itu output yang diminta dari barang produksi dalam negeri naik. Untuk meningkatkan output tersebut perusahaan membutuhkan input yang lebih banyak (modal dan tenaga kerja) sehingga permintaan terhadap tenaga kerja dari perusahaan naik . dan terciptalah lapangan kerja yang baru. Disamping hal tersebut lapangan kerja juga dapat terbentuk dari sisi perusahaan advertisingnya sendiri. Karena advertising dianggap perlu maka banyak perusahaan advertising yang bermunculan sehingga tercipta lagi lapangan kerja yang baru.

Dengan adanya advertising mengenai gambaran/informasi produk- produk dalam negeri yang informasinya tersebar hingga luar negeri maka orang–orang luar negeri yang tertarik dengan kualitas, model atau apapun dari produk Indonesia dan membelinya (terdapat permintaan dari luar negeri sehingga Indonesia dapat mengekspor produknya ke negara tersebut). Oleh karena itu pendapatan negara Indonesia dapat naik


Kesimpulan

Menurut penulis, peran advertising bagi perekonomian khususnya di Indonesia sangat sangat penting karena dapat meningkatkan penjualan produk dalam negeri di Indonesianya sendiri maupun hingga ekspor keluar negeri disamping dapat menigkatkan lapangan pekerjaan sehingga dapat menekan angka pengangguran. Maka dengan ada tidaknya advertising, pembangunan negara Indoesia menjadi meningkat tapi pertumbuhan negara Indonesia juga bertambah.

Surya Dinata
(Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran)
Kandank Ilmu Team

SEKTOR INFORMAL YANG TERUS BERKEMBANG

Adanya persaingan yang semakin ketat antar negara di dunia dan diberlakukannya perdagangan bebas (free trade) menjadikan banyak negara berbondong-bondong untuk melakukan inovasi dalam berbagai hal. Salah satu yang paling menonjol adalah penguasaan teknologi. Dengan teknologi, suatu negara dapat menciptakan barang baru untuk diperdagangkan atau menciptakan cara baru yang lebih efisien untuk meningkatkan produksi barang yang sudah ada.

Ketika terjadi peningkatan produksi suatu barang oleh suatu negara, hal ini berarti terjadinya peningkatan pula pada output secara keseluruhan, yang berarti pertumbuhan ekonominya juga meningkat. Namun, penerapan teknologi untuk yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian membutuhkan pekerja dengan kemampuan yang cukup (skilled labor). Sedangkan, tidak semua sumber daya manusia yang ada memiliki kemampuan yang sama. Sebagai contoh, negara maju seperti Amerika, jumlah sumber daya manusia yang memiliki kemampuan di atas rata-ratanya dapat mencapai angka yang signifikan, sedangkan kondisi tersebut tidak terjadi Indonesia.

Walaupun demikian, semua orang, baik yang memiliki kemampuan lebih atau tidak (skilled or unskilled labor), membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makanan, rumah, dan pakaian. Oleh karena itu, ketika banyak pekerja yang tidak dapat menggapai sektor formal, maka sektor informal lah yang berkembang dan memberikan lahan pekerjaan untuk para unskilled labor. Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor informal telah menjadi penyokong hidup banyak orang, terutama warga negara berkembang yang memiliki keterbatasan kemampuan (skill).

Sektor informal sebenarnya merupakan sektor yang menyumbang pendapatan negara terbanyak dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara jika dimasukkan dalam penghitungan PDB. Perputaran uang dalam sektor informal pun sangat cepat dan dengan jumlah uang yang relatif besar. Bisa jadi inilah alasan mengapa banyak orang yang bahkan lebih memilih mendapatkan penghasilannya melalui sektor informal dibandingkan sektor lainnya.

Namun, sektor informal masih sangat identik dengan pasar gelap (black market) seperti jual beli narkoba, perdagangan anak, dan sebagainya. Hal ini berarti merupakan sesuatu yang harus ditindak tegas oleh pemerintah dan bukan termasuk jenis pekerjaan informal, melainkan salah satu bentuk kriminalitas tingkat berat yang harus diberantas.

Ridela Sheila
(Mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran)
Kandank Ilmu Team

SEPUTAR REDENOMINASI RUPIAH

Akhir-akhir ini kita sering mendengar dan melihat tentang banyaknya wacana BANK INDONESIA perihal redenominasi terhadap rupiah.Banyak pihak-pihak yang pro dan kontra perihal masalah ini,namun banyak pihak yang belum memahami perihal redenominasi tersebut dan apa pengaruh redenominasi tersebut baik dari segi positif maupun dari segi negatifnya. Menurut Gubernur Bank Indonesia terbaru Darmin Nasution Redenominasi adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang. Artinya pecahan mata uang di sederhanakan tanpa mengurangi nilai dari mata uang tersebut. Misalnya Rp.10.000 menjadi Rp.10, Rp.1000 menjadi Rp.1 dan seterusnya, tetapi nilai mata uang sebelum dan sesudah redenominasi itu nilainya tetap sama. Menurut Ensiklopedia Bahasa Indonesia lebih tepatnya Redenominasi Rupiah adalah pemotongan mata uang menjadi lebih kecil tanpa merubah nilai tukarnya. Pada waktu terjadi inflasi, jumlah satuan moneter yang sama perlahan-lahan memiliki daya beli yang semakin lemah dengan kata lain harga produk dan jasa harus di tuliskan denagn jumlah yang lebih besar,ketika angka-angka ini semakin membesar mereka dapat mempengaruhi transaksi harian karena resiko dan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh jumlah uang lembaran yang harus dibawa atau karena resiko psikologi manusia yang tidak efektif perhitungan angka dalam jumlah yang besar,maka pihak yang berwewenang dapat menangani masalah ini dengan redenominasi.

Yang menjadi masalah dalam masyarakat saat ini adalah ketakutan jika redenominasi tersebut dapat berpengaruh pada daya beli masyarakat seperti sanering yang terjadi pada jaman Soekarno yang mempengaruhi daya beli masyarakat dan berpengaruh pada perekonomian nasional. Gubernur Bank Indonesia,Narmin Nasution menegaskan bahwa Redenominasi bukanlah merupakan pemotongan daya beli masyarakat melalui nilai mata uang seperti pada istilah sanering ”Redenominasi sama sekali tidak merugikan masyarakat karena redenominasi berbeda dengan sanering atau pemotongan,dalam redenominasi niali uang terhadap barang tidak akan berubah yang terjadi hanyalah penyederhanaan dalam nilai nominalnya berupa penghilangan beberapa digit angka nol”ujar Darmin Nasution. Redenominasi biasanya dilakukan dalam situasi dan kondisi ekonomi yang stabil dan menuju ke arah yang lebih sehat sedangkan sanering adalah pemotongan nilai mata uang dalam kondisi perekonomianyang tidak sehat yaitu dengan memotong nilai uangnya saja. Redenominasi dilakukan untuk menyederhanakan sistem akuntansi dalam sistem pembayaran tanpa menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian.

Walaupun telah banyak penjelasan yang diutarakan oleh Bank Indonesia mengenai perbedaan antara Sanering dan Redenominasi namun tetap saja banyak masyarakat yang menganggap bahwa antara sanering dan Redenominasi hanyalah perbedaan istilah yang mempunyai makna yang sama yang akan berpengaruh pada daya beli masyarakat dan perekonomian nasional. Secara lebih rinci Bank Indonesia menjelaskan perbedaan antara Redenominasi dan Sanering diantaranya adalah pada redenominasi tidak ada kerugian karena daya beli tetap sama sedangkan pada sanering menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis,redenominasi bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakukan transaksi dam mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan ekonomi regional sedangkan sanering bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga biasanya dilakukan karena inflasi yang sangat tinggi,pada redenominasi nilai uang terhadap barang tidak berubah karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan sedangkan pada sanering nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil karena yang dipotong adalah nilainya,redenominasi dilakukan saat kondisi makro ekonomi stabil ekonomi tumbuh dan inflasi terkendali sedangkan pada sanering dilakukan pada saat keadaan makro ekonomi yang tidak sehat dan ketika situasi inflasi yang sangat tinggi,redenominasi disiapkan secara matang dan terukur sampai masyarakat siap agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat sedangkan pada sanering tidak ada masa transisi dan biasanya dilakukan secara tiba-tiba.

Seberapa kerasnya usaha Bank Indonesia untuk menjelaskan bahwa redenominasi jamun tak dapat dipungkiri jika masyarakat cukup paham dampak-dampak redenominasi baik itu dari segi positif maupun negatif,bila kita melihat dari sudut pamndang masyarakat dan melepaskan pengaruh Bank Indonesia mak untuk kebijakan ini Bank Sentral harus menarik semua mata uang lama dan mencetak mata uang yang baru tapi ini hanyalah dampak yang paling yangdapat diatasi oleh Bank Indonesia,justru kelompok korporat swasta yang akan menanggung banyak dampak dari redenominasi. Bank-bank swasta harus merubah sistem mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) agar sesuai dengan nominal yang baru atau mungkin malah menarik semua ATM yang lama dan menggantinya dengan yang baru jika memang pemerintah merubah total bentuk fisik dan ukuran kertas mata uang yang baru. Operasi perubahan maupun penggantian mesin pasti akan memakan biaya yang cukup mahal,mungkin tidak setinggi biaya untuk mencetak uang-uang baru tetapi disini pihak swastalah yang menanggung beban. Selain itu masih banyak permasalahan yang akan dihadapi sebagai dampak dari redenominasi tersebut,penghilangan jumlah nol akan mengacaukan perhitungan akuntansi yang telah terkomputensasi dan jika itu terjadi di seluruh negri dan menimpa kantor-kantor pemerintah dan swasta maka akan terjadi bencana administrasi nasional. Dampak lainnya yang perlu diperhatikan dengan cermat adalah adanya potensi pembulatan harga ke atas dengan alasan untuk mempermudah transaksi,harga barang yang dahulunya adalah Rp.1700 setelah adanya redenominasi harganya akan berubah menjadi Rp.1,7 dan kemudian harganya akan dibulatkan menjadi Rp.2. Tentu saja secara luas praktik ini akan mengakibatkan semakin tingginya tingkat inflasi .

Sebelum melakukan redenominasi ini hendaknya Bank Indonesia meyakinkan infrastruktur yang terkait dengan dampak redenominasi sudah disesuaikan dan di setting sedemikian rupa sehingga kompatibel dengan mata uang baru dengan lebih sedikit nol. Biaya penyesuain infrastruktur akibat redenominasi mungkin akan lebih besar dari perkiraan pemerintah karena pemerintah harus menjangkau semua sektor ekonomi yang terancam terkena dampak redenominasi tersebut. Redenominasi adalah kebijakan yang tepat tetapi sebaiknya dipersiapkan panjang dan matang sebelum akhirnya direalisasikan dan sebisa mungkin menutup flaw yang mungkin terjadi dalam implementasinya. Perlu ditekankan disini bahwa pokok permasalahan bukan hanya sekedar mensosialisasikan masalah ini ke pihak-pihak yang terkait lebih dari itu redenominasi menuntut perubahan infrastruktur dan administrasi secara masif atau ekonomi negri kita akan digoncang prahara pembukuan terkait dengan dampak redenominasi.

Dalam tahapan riset mengenai Redenominasi,Bank Indonesia akan secara aktif melakukan diskusi dengan berbagai pihak untuk mencari masukan dan hasilnya akan diserahkan kepada pihak-pihak terkait agar dapat menjadi komitmen nasional,selain itu Bank Indonesia secara aktif melakukan kajian Redenominasi Rupiah dimana hal ini terkait dengan pelaksanaan integrasi masyarakat ekonomi regional sperti ASEAN. Redenominasi membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun dan selama itu pedagang wajib mencantumkan label dalam dua jenis mata uang yakni mata uang lama yang belum dipotong dan mata uang baru yang nol nya sudah dipotong,sehingga tercipta control publik. Beberapa faktor yang mendukung suksesnya program redenominasi ini adalah ekspektasi inflasi yang berada pada kisaran yang rendah denagn pergerakan yang stabil,stabilitas perekonomian yang terjaga serta adanya jaminan terhadap stabilitas harga serta adanya kebutuhan dan kesiapan masyarakat.

Rini Oktapiani Mahasiswa S1 IESP FE UNPAD
Kandank Ilmu Team

THE DEVELOPMENT OF INDONESIA IN THE LAST TEN YEARS

As we all can see, the condition of Indonesian economy has not given the significant changes to make a better living for its citizen, especially for the poor. Our country even stuck with the same problem that is a multidimensional crisis. The crisis began in 1998 (about twelve years ago) and continued until now without any great solution. Although some people argue that in the last ten years our country can make us proud with the increasing percent in every year of its economic growth, it doesn’t change the reality of how bad Indonesian development is today. Many aspects have to be solved to reach the Indonesian development goals. Those aspects include the rate of unemployment, poverty, health and environment issues, gender, education, the unfair development among islands, and so on.